Surat Sang Sahabat

Aku sudah biasa seperti ini. Terkena cipratan air comberan dari mobil yang melintas di jalan. Di umpat oleh orang yang merasa terganggu oleh hadirnya diriku di depan mobil mereka. Tak pelak jua aku berlari di pinggir jalan Kota demi mempertahankan uang hasil kerja kerasku yang dengan mudahnya di ambil oleh preman – preman jalanan. Aku tak pernah mengeluh akan semua ini. Yah, memang beginilah kehidupanku. Demi tercapainya cita – cita, akan kulakukan pekerjaan apapun itu. Yang penting adalah halal.Kata ambu, hidup haruslah dapat mewujudkan kebahagiaan.Entah, apapun makna dari kebahagiaan itu. Yang jelas,aku merasa bahagia saat bersekolah bersama teman – teman seusiaku di Sekolah Menengah Pertama.
Namun apa daya ambu sudah tak sanggup membiayai sekolah aku dan adikku. Karena kami hanya bertiga (aku,ambu,dan dik fauzi), maka ambu harus bekerja keras demi kehidupan kami. Sejak abah meninggal 2 tahun yang lalu, ambu memang berusaha keras untuk mencari uang sebanyak mungkin.Namun, tetap saja ambu kepayahan untuk membiayai aku dan dik Fauzi sekolah.Mengetahui hal itu, akhirnya aku pun memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah dan membantu ambu mencari uang untuk makan sehari – hari.Dan, hari ini aku hanya bisa mengumpulkan uang 5.000 rupiah dari hasil menjual suara. Jauh sekali dari target yang aku impikan. Dengan uang segitu, aku hanya bisa memberi ambu 4.000 rupiah dan sisanya untuk ku tabung.Aku sangat sedih.Aku teringat saat kemarin malam ibu kontrakan tempat kami tinggal sudah meminta ambu untuk membayar lunas uang sewa bulan ini. Yah, semoga saja ambu mendapat pinjaman uang.
Surat Sang Sahabat
Tok.Tok. Tok.. Aku menengok ke luar, ternyata ambu sudah datang.Ku lihat wajah tirusnya, tampak semakin tua dan lelah. Dengan perlahan ia memberiku sebungkus nasi. Aku langsung memakannya dengan lahap. Ku tanya kepadanya tentang lapar atau tidak, ia menjawab dan berkata bahwa ia sudah makan di rumah majikannya. Ya, ambu memang seorang pembantu rumah tangga di rumah seorang pengusaha butik. Setiap ia kerja, ia memang selalu membawa Dik Fauzi. Untung, majikan ambu adalah orang yang baik. Sehingga ia membolehkan Dik Fauzi untuk ikut ambu bekerja. Dik Fauzi memang sudah berusia 11 tahun. Namun ia memiliki penyakit kelainan mental. Sehingga ambu tidak bisa meninggalkannya sendiri di rumah. Saat itu,Ku lihat raut wajah ambu yang menatap sedih ke arahku. Ia berkata bahwa saat ini ia belum bisa menyekolahkanku lagi. Aku hanya berkata tak apa. Toh, aku memang tidak berharap ambu dapat membuatku bersekolah lagi.Kata teman seperjuanganku di jalanan, aku hanya dapat bermimpi untuk bisa bersekolah lagi. Aku tau,saat ini memang mahal biaya bersekolah di Sekolah Menengah Atas. Baik negeri maupun swasta, semuanya membutuhkan uang sedikitnya ratusan ribu.Mengingat hal itu, aku hanya bisa berdoa pada Yang Maha Kuasa agar permohonanku untuk melanjutkan sekolah dapat tercapai.

Aku sudah berdiri selama 2 jam di depan pintu gerbang ini. Ku lihat anak – anak di dalamnya sedang memperhatikan seorang wanita paruh baya yang sedang mengajar.Sepertinya pelajaran matematika.Aku sangat suka pelajaran itu.Sewaktu di Sekolah Menengah Pertama, aku memang selalu mendapat nilai tertinggi dalam pelajaran matematika.Rasanya menyenangkan bisa mengutak – atik soal matematika. Belajar di sekolah ini pasti menyenangkan,pikirku. Aku memang lumayan sering datang ke sekolah ini.Di kejauhan, ku lihat seorang gadis menuju ke arahku.Aku hendak lari. Namun, ia lebih cepat dari yang kuduga. Ia tersenyum padaku. Manis sekali. Dia berkata namanya Intan, dan memberiku sebuah buku. Lalu, ia pun pergi dan kembali ke dalam kelas. Sesampainya di rumah, aku masih memikirkan kejadian tadi siang.Ya, seorang gadis yang bernama Intan memberiku buku catatan yang berisi pelajaran.Di belakang buku itu, ada tulisan yang mengatakan bahwa aku harus mempelajari semua pelajaran di buku catatan ini.Aku tersenyum.Aku pun mulai mempelajari semua yang ada di dalam buku catatan ini.

Esoknya, aku kembali datang ke sekolah Intan.Kali ini aku datang untuk berterima kasih padanya. Aku tidak tau alasan ia memberiku buku catatan dan darimana ia mengenalku. Saat tiba istirahat, ku lihat Intan menghampiriku.Ia menyapaku. Awalnya kami agak canggung, namun setelah itu kami berbicara dan saling bercerita layaknya kawan lama. Entah, aku merasa nyaman saat berbicara dengannya. Ternyata,keinginanku untuk bersekolah lagi, telah dilihat oleh Intan. Aku memang sering menyelinap untuk datang dan memperhatikan aktivitas anak – anak seusiaku belajar di sekolah ini.Dan Intan pun mengetahuinya. Maka ia pun membuat buku catatan untukku agar aku bisa belajar lagi. Sungguh, ia begitu baik padaku. Katanya, aku harus selalu bersemangat dalam mengejar cita – cita.Karena sesungguhnya ada orang yang mampu bersekolah, namun tak mampu mewujudkan keinginannya. Katanya pula, ia akan membantuku dalam mewujudkan cita – citaku. Hari demi hari aku lalui.Aku bahagia dapat berteman dengan Intan.Gadis yang selalu memotivasiku dan menjadi inspirasiku.

Seperti biasa, hari ini aku menemui Intan di sekolahnya.Namun hingga sekolah usai, tak ku lihat wajah ceria itu.Aku pulang dengan rasa khawatirku pada Intan.Esoknya, wajah yang kunanti tak kunjung datang juga. Aku semakin penasaran akan hal ini. Berbagai pikiran muncul di benakku. Ah, andai kutau alamat Intan, pasti ku kan tau jawabnya.

Seminggu kemudian, Aku masih menunggu wajah ceria Intan di depan pintu gerbang ini. Dan, tak berapa lama Intan datang dengan kotak coklat di tangannya.Katanya itu untukku, sebagai permohonan maaf darinya karena telah membuatku khawatir.Dia memang benar – benar baik.Aku pun bertanya tentang dirinya seminggu ini. Dia bilang hanya sakit flu dan demam hingga ia tak dapat bersekolah dulu. Akhirnya kami pun saling bertukar cerita dan pengalaman. Ia dengan sekolahnya, dan aku dengan pekerjaanku,mengamen di bus Ibu Kota. Kemudian,Intan bertanya tentang alamatku. Katanya, lusa Ia dan ayahnya akan datang ke rumahku. Ia ingin bertemu dengan ambu dan dik Fauzi. Aku pun dengan senang hati memberinya.Lalu, malamnya ku ceritakan rencana kedatangan Intan pada ambu.Ambu memang sudah tau tentang Intan.

Aku seringkali membicarakannya pada ambo.Ambo mengizinkan. Ternyata ambu juga penasaran akan Intan. Namun, di hari yang di tunggu, Intan tak jua datang. Hingga larut malam aku dan ambo menunggunya namun ia tetap tak datang. Esoknya, aku pergi ke sekolah Intan untuk menanyakan alasan ia tak datang kerumahku. Namun dari temannya, ku dengar kabar bahwa Intan tak masuk sekolah dan tak ada kabar.Aku semakin heran.Hatiku bertanya tentang kondisi Intan sekarang. Apakah ia sakit ? Atau ia pergi ?Ku putuskan untuk kembali ke rumah dan menanti kedatangannya.

3 hari kemudian, Sebuah mobil sedan berwarna biru metalic muncul di gang depan rumahku. Seorang bapak keluar dari dalamnya dan tampak menuju rumahku. Tak lama kemudian, ia mengetuk pintu rumahku. Ambu menyuruhku membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.Ketika itu kulihat wajah bapak itu muram dan sedih. Setelah ia memperkenalkan diri, barulah aku tau kalau ia adalah bapak dari Intan,Pak Sudibyo. Aku bertanya dalam hati, mengapa Pak Sudibyo ini datang sendiri tanpa Intan? Lalu, mengapa ia tampak sedih? .Pak Sudibyo menyodorkan sebuah kotak padaku.Katanya itu pemberian dari Intan. Akhirnya, dengan penuh rasa penasaran, aku membuka kotak yang ternyata berisi surat.

Untuk sahabatku, Dio.
Di, maafkan aku bila saat kau membaca surat ini, aku tak bisa berada di sampingmu. Maaf, karena telah ingkar janji padamu.Sungguh, aku tak pernah berniat untuk melupakanmu.Kau adalah sahabat terbaikku. Darimu, aku tau kehidupan keras di luar sana. Darimu, aku pun tau pentingnya belajar demi masa depan. Darimu juga, aku tau akan arti semangat dalam menjalani kehidupan. Terima kasih atas semua pengalaman yang telah kau bagi denganku.Aku sangat kagum padamu.Dio, kau mungkin tidak pernah berpikir bahwa aku sempat iri dengan semua pengalaman dan semangatmu.Aku iri dengan semua itu.Karena, aku tau aku tidak mungkin sepertimu.Aku bukanlah orang yang selalu bersemangat dalam menjalani setiap langkah kehidupanku.Aku juga tidak pernah tau rasanya bekerja demi seorang yang ku sayang. Itu semua karena aku tau, bahwa hidupku tak akan lama.

Aku telah divonis dokter terkena penyakit leukimia. Dan hidupku tak akan bertahan lama. Maaf, bila selama ini aku tak pernah memberitahumu tentang hal ini.Itu semua ku lakukan karena aku ingin kau menganggapku sebagai seorang teman yang normal, bukan penyakitan. Dalam surat ini aku ingin menyampaikan bahwa aku akan menepati janjiku padamu dulu. Papaku akan membiayai sekolahmu hingga kau lulus kuliah nanti. Aku sudah meminta papa agar mau membiayaimu sekolah lagi.Dan saat inilah, tiba waktunya bagimu untuk mewujudkan cita – cita. Aku yakin kau akan berhasil dalam mewujudkan cita – citamu. Berjanjilah untuk terus semangat dalam menjalani kehidupan. Aku akan selalu mendukungmu.
Sahabatmu, Intan.

Aku tak sanggup membendung air mataku.Badanku terasa lemas dan tak bertulang.Aku merasa dunia terasa berputar begitu cepat. Belum usai kesedihanku atas kepergian Intan, lalu surat itu pun datang memberi harapan bagiku untuk kembali belajar. Tuhan, aku tak tau harus bagaimana? Apakah aku harus bersyukur atas semua peristiwa yang terjadi ini?Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih pada Intan. Terima kasih atas semua yang ia berikan untukku.

Karya Khodijah Benuss

About banistuti

I'm not a perfect person There's many things I wish I didn't do But I continue learning ★☆。.:*:・゚★('-^v) (y)◦°˚(y)

Posted on May 2, 2013, in Cerpen Persahabatan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: