Maaf Ku Tak Bisa

Mentari bergerak perlahan menuju ufuk barat mencoba menenggelamkan dirinya dibalik semburat cakrawala. Langit senja Nampak membiaskan cahaya fatamorgana yang terlihat oranye keperak-perakan. Di sudut bibir pantai , Nada duduk terkulai lemas. Pesawat yang mengantarkan kekasihnya , Revan menuju Negeri paman Sam , baru saja berangkat melintasi langit senja yang indah menembus awan. Nada hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Sejujurnya jauh di libuk hatinya ia tak setuju kalau Revan harus melanjutkan study-nya di Negeri yang jauh itu.
Namun apa daya , karena ia tak ingin menghancurkan mimpi-mimpi yang telah Revan bangun, mau tak mau Nada harus mengikhlaskannya jua. “ku harap , yang kutakutkan takkan pernah terjadi Revan.!” Nada menggumam. Setetes air mata jatuh dipipinya disertai dengan senyuman getirnya. Nada menengadah ke atas langit. Ditatapnya sekali lagi pesawat yang terbang dengan mulus di atas langit senja itu. Setelah matanya tak dapat melihat pesawat yang mengantarkan Revan itu tak lagi Nampak oleh Nada , ia bangkit berdiri untuk pulang meninggalkan pemandangan senja di pantai yang begitu indah.
“gimana Nad ? Revan udah berangkat ?” serbu mama ketika Nada baru saja sampai dan menyenderkan tubuhnya lemas diatas sofa. Nada hanya mengangguk pasrah. “loh , kok gitu ? harusnya Nada senang dong, Revan kan kesana buat masa epan yang lebih baik juga ?” ucap mama, seolah ia sudah tahu pasti isi fikiran puteri tersayangnya itu. Nada hanya melongo dan beberapa saat kemudian bangkit menuju kamarnya. “Nada .. Nada ..” desah mama lagi ketika melihat tingkah puterinya itu.
Nada mengunci pintu kamarnya rapat. Dibaringkannya tubuhnya di atas matrassnya yang empuk. Fikirannya berkelana. Matanya kini menatap langit-langit kamarnya yag bermotif langit biru dengan beberapa awan kecil disana. Mungkin mama benar , toh Revan melakukan ini untuk masa depan yang lebih baik lagi ? . Nada menggumam dalam hatinya. Namun entah mengapa perasaan takut selalu menghantuinya , perasaan takut kalau-kalau Revan akan melupakannya , maninggalakannya untuk gadis-gadis Negeri paman Sam yang mungkin jauh lebih dibanding dirinya. “Ahhh ..” Nada menjerit tertahan diiringi air matanya yang kini tumpah di atas bantal kecil yang dipeluknya.
Beberapa hari berlalu ssetelah keberangkatan Revan . Nada masih sering menrima pesan masuk , telepon , video chat atau kadang kiriman E-mail darinya . perlahan fikiran-fikiran yang dulu ditakutkannya tak muncul lagi di kepalanya , toh Revan masih sering memberinya kabar dan menghubunginya sama seperti Revan masih di sini. Di Indonesia bersamanya .namun itutak berlangsung lama , perlahan Revan muali jarang menghubunginya . yang kadang mereka bervideo chat 3 kali seminggu , kini sudah berubah menjadi sekali seminggu atau kadang pula Revan tiada memberinya kabar dalam seminggu.
Awalnya Nada masih berfikir kalau Revan mungkin sibuk dengan urusan kuliahnya . hari makin berlalu revan bahkan kini tak pernah lagi memberinya kabar , boro-boro mereka akan bervideo chat , kirim pesan singkatpun sudah tiada pernah ia lakukan . perlahan demi perlahan , fikiran buruk mengenai Revan kembali muncul di kepala Nada . hal yang dulu ditakutkannya kini terjadi juga. Terlebih saat Nada mendapati Revan yang pulang berlibur ke kampung halamnya di Indonesia bersama seorang gadis dengan mersanya bergandengan tangan menyusuri panati. Tahulah ia kini mengapa Revan sudah tak pernah menghubunginya lagi. “Oh Tuhan , ternyata benar apa yang kutakutkan dulu. Semuanya sudah terjadi.!” Nada tenggelam dalam isak tangisnya , rindu utuk Revan yang sudah membuncah dihatinya rasa-rasanya tak sanggup lagi ditahannya. Ia rasanya Nada menjerit sekeras-kerasnya.

Nada mendekat menuju tempat Revan dan gadis blasteran itu berdiri menghadap kearah pantai menghembuskan ombak. “Ehemm ..” Nada berpura berdehem . sontak Revan kaget begitu melihat Nada sudah berdiri di hadapannya. Dengan ceoat Revan melepaskan genggaman tangan gadis blasterannya. “Na.. Nada ?” Revan tegagap . “ngapain kamu disini Nad ?” tambahnya lagi . entah ia berbasa-basi atau memang tak menyangka kehadiran Nada. Nada tersenyum pahit . “enggak , aku cuman jalan-jalan.” Ucap Nada lembut . “boleh aku Ngomong berdua sama kak Revan ?” pintanya sembari melirik gadis blasteran yanga da dismaping Revan itu. Tak lam kemduian mereka sudah duduk di atas bale-bale pantai setelah Revan member isyarat pada gadisnya untuk menunggunya sebentaran.
“ehmm , kak Revan kok nggak bilang mau pulang liburan ?” Nada menatap Revan tajam . “maafin aku Nad , jujur .. aku .. aku udah nggak bisa buat jalani hubungan lebih dariteman lagi sama kamu , kau teralu muda untukku .. dan kurasa memang kau hanya pantas menjadi adikku bukan ?” Ucap Revan tanpa rasa bersalah sedikitpun . matanya yang dulu terlihat menatap Nada kini tak lagi ada. “I’am sorry Nad .. I don’t love you anymore ..” tambahnya lalu beralu begitu saja meninggalkan Nada yang masih tergugu.

Dibantingkannya tubuh Nada keatas matrassnya yang empuk , air mata yang sedari tadi ingin tumpah ruah kini sudah berhasil mengucur dengan deras. “I damn hate you Revan ..” teriaknya setengah histeris . ingin rasanya ia memukul , menampar dan memaki-maki Revan sepuas hatinya . namun apalah dayanya . bahkan untuk mehanan Revan saja ia sudah tak mampu. Hatinya menclos begitu saja , luruh bersama air matanya yang semakin deras menetes. Tiada pernah ia sangka akan setega itu Revan padanya . ingin rasanya ia marah tapi entah pada siapa. Tangisnya makin menjadi.
seminggu berlalu semenjak revan meutuskan untuk meninggalkannya. Hari-hari Nada terasa begitu sunyi. Semua barang pemberian Revanpun kini sudah dipackingnya. Takingin lagi rasanya Nada mengingat semua tentang Revan. Barang-barang yang sudah dipackingnya itu rencana akan ia buang saja. Dan setelah jam sekolah selesai buru-buru Nada mengambil kardus didalam kamarnya yang bertuliskan “The past”. Tanpa mengganti seragam putih abu-abunya, segera saja Nada tancap gas menuju pantai.
Satu persatu barang barang pemberian Revan padanya seperti Boneka , kalung , kotak cokelat , kartu ucapan dan lain sebagiannya dilemparkannya ke tengah-tengah lautan lepas.”ehh ..” desahnya sembari melempar satu perstau benda-benda itu ketengah laut. Beberapa meter jaraknya dari Nada berdiri seorang cowok yang tengah asyik memperhatikan Nada dengan kekesalannya. Cowok tetrawa terkikik geli melihat Nada melempar satu persatu benda dalam kardus itu hingga hampir habis. Kini sisa sebuah botol kecil berwarna hijau dengan selembar kertas didalamnya. Nada mengambil benda terakhir itu , benda yang pertama kali diberikan Revan padanya saat ia menyatakan perasaannya melalui kertas didalam botol itu.
Ada rasa Enggan saat Nada ingin melemparnya . “lempar , nggak. Lempar , nggak..” Nada bimbang. “kalau mau dilempar , ya dilemparin ajah.!” Cowok yang sedaritadi memperhatikan Nada itu kini membuka suaranya. Nada tersentakm kaget. “ehh loe siapa ?” tanyanya agak gusar karena berfikir cowok ini sudah sangat lancang mencampuri urusannya. Cowok itu tersenyum pekat. “Gue , gue Alvin” ucapnya sembari mengulurkan tangan. Nada masih terdiam melongo. Namun stelah cowok bernama Alvin itu ditatapnya beberapa lama . diulurkannya juga tangannya untuk menjabat tangan cowok ganteng di depannya itu. “Gue , Nada .” balsanya sembari tersenyum. Tak berapa lama kemudian Nada dan Alvin sudah ngobrol begitu akrab , layakanya orang sudah lama slaing mengenal. “ohh jadi loe patah hati ?” ucap Alvin padanya ditengah obrolan mereka. Yang ditanya hanya menangguk sepintas. “cowok gitu mah jangan difikirin , masih banyak kok cowok laen , iya nggak ?” tambahnya lagi. Nada tertawa namun kali ini tetawa yang begitu terasa lepas. Dalam hati Nada membenarkan ucapan Alvin barusan. Sudah seharusnya memang ia melupakan Alvin dan segela kebohongannya. Nada tersenyum lagi dan kali ini Alvin pun ikit tersenyum.
Hari –hari semakin berlalu , Alvin dan Nada semakin akrab saja , setiap harinya mereka merasa semakin sreg saja . dan Alvin adalah pria baik hati yang selalu menemani hari-hari Nada yang terasa sunyi kinipun berubah menjadi lebih berwarna karenanya. Terkadang mereka janjian nonton bioskop berdua , nyari buku berdua atau sekedar Jalan-jalan santai di pinggir pantai. Perlahan-lahan bayangan Revanpun terasa pudar dan semkain hilang di benaknya. Samapai sauatu hari Nada menerima seorang tamu yang mengetuk pintunya. Dengan sigap Nada menuruni tangga untuk membukaka pintu . “pasti Alvin.” Benaknya. “iia Vin benta..r” kalimatnya terpotong begitu saja manakala ia melihat tamu yang datang bukanlah Alvin melainkan Revan. cowok brengsek yang sudah menyakitinya dulu . “Oh , elo . Mau apa loe kesini ?” ucap Nada tak ramah.
Nada menutup rapat pintu kamarnya , bayangan Revan kembali menari di benaknya . Revan datang padanya meminta maaf dan menyesali perbuatannya . datang untuk memintanya kembali bersamanya karena gadis yang dipilihnya ternyata salah , dan Revan menyesal tealh menyakitinya. “ohh Tuhan , apa yang harus kulakukan ?”. Nada terdiam sejenak kembali diingatnya beberpa waktu yang telah dilaluinya , hanya ada bayanagn Alvin di sana . ya Alvinlah yang selalu menemani harinya , bukan Revan.!. Alvinlah yang telah membantunya melupakan cinat pertamanya.! Menyembuhkan lukanya. Bukan Revan.!. segera Nada meraih handphone di atas mejanya dan menekan beberapa nomer di sana. Terdengar jawaban dari seberang “iya Nad ?” . “gue butuh loe vin , buat nemenin gue.!” .
Revan menunggui dengan sabar kedatangan Nada , ditatapnya wajah Nada yang seolah pucat dengan lekat di Hadapannya. “Nad gue kangen sama loe..” ucapnya lalu dipeluknya Nada. Dengan cepat Nada melepaskan pelukannya . “maaf , van.! Gue nggak bisa.! .. gue udah nggak mau loe sakitin.!” .ucap Nada terbata. “gue tau Nad , gue minta maaf .. dan sekarng I’am back for you dear.” Ucap revan. Segera Nada menepis semua ucapan Revan “sorry Van ,sekarang gue udah sadar , kalau loe udah nggak berarti buat gue . gue mau loe pergi . kenap loe harus datang saat gue udh bahagia bersma yang lain. Gue mau .. loe juga harus lupain gue , bukankah loe sendiri yang bilang kalau gue lebih pantas buat jadi adik loe. Sorry Van gue harus pergi .. thanks buat semua kisah yang udah loe beri ke gue . let me go Now .. and I hope u get Luck with another girl , even if not me.!” ucap Nada panjang lebar dengan suara parau . meski berat namun mungkin inilah yang terbaik untuknya. Dihampirinya tubuh Alvin yang berdiri tak seberapa jauh dari mereka. Meninggalkan Revan yang masih termangu menatap Nada pergi meninggalkannya . tak terasa air mata Nada jatuh membasuh pipinya lagi.dan kini ada Alvin yang membantunya mengusap setiap air matanya yang jatuh mengalir. Maafin aku Van , mungkin ini lebih baik.! Benaknya lagi. *
Karya Ira Permatasari

About banistuti

I'm not a perfect person There's many things I wish I didn't do But I continue learning ★☆。.:*:・゚★('-^v) (y)◦°˚(y)

Posted on May 2, 2013, in Cerpen Cinta. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: